Mengubah cara pandang memang akan memberikan angle yang berbeda saat kita melihat hal yang sama. Dan karena kita melihatnya dari sudut yang lain, kadang permasalahan yang sebelumnya kita pikir susah dan rumit, tiba-tiba jadi lebih mudah. Tapi sebenarnya apa sih cara pandang itu, dan gimana cara kita merubahnya?
State of Mind
Dalam bahasa Inggris, cara pandang ini bisa dianggap sebagai state of mind, yang berarti adalah posisi dan kondisi otak dan pikiran kita terhadap sesuatu hal. Karena besar dipengaruhi oleh otak, sang penggerak pikiran, makanya state of mind kita jadi sangat berpengaruh dalam cara kita memandang suatu benda atau suatu hal, dan pada akhirnya berperan besar dalam penilaian dan cara pikir kita.
Menurut Mike King, salah satu penulis di situs www.learnthis.ca dalam artikelnya yang berjudul “A Guide To Mastering Your State of Mind”, dengan menguasai pola pikir dan cara pandang, kita bisa mengatur diri kita untuk merasakan apapun juga sesuai dengan keinginan. Contohnya, saat kita diputusin pacar. Kalau kita berpikir bahwa kita adalah orang paling malang sedunia, maka seluruh gerak-gerik dan perasaan kita akan melakukan hal yang sama, yaitu sedih, sengsara, bermuram durja, dan rasa sakit hati lainnya.
Tapi kalau kita mengubah cara pandang kita dengan berpikir bahwa diputusin pacar adalah sesuatu yang positif, bahwa itulah yang terbaik agar kita bisa bebas menjadi diri sendiri lagi, maka nggak masalah tuh putus cinta! “Sakit hati? Sakit hati yang mana?” begitu isi pikiran kita saat kita berhasil mengubah cara pandang.
Believe and See
Sayangnya, mengganti cara pandang nggak segampang mengganti baju yang bisa kita lakukan begitu saja. Untuk bisa merubahnya, kita harus bisa melihatnya dari sisi yang berbeda, dan kita harus percaya pada perbedaan itu. Nah, untuk mendapatkan sugesti tadi, kita harus bisa mengendalikan perasaan dan pikiran sesuai dengan kemauan kita. Kalau kita berhasil, kita bisa memandang benda apapun menjadi hal yang kita inginkan. Intinya, believe then you'll see. Kalau kita percaya pada suatu hal, maka kita akan bisa “melihat” hal tersebut.
Saat diberi tugas kelompok yang itu lagi-itu lagi normalnya kita akan berpikir, “Aduuuh, kok gue lagi, sih?” Nah, sekarang gimana kalau kita “memanipulasi” cara pandang itu dengan berpikir kalau kita percaya dengan batapa gampangnya tugas ini (karena kita sudah sering melakukannya), maka kita bisa melihat tugas tersebut dengan cara yang berbeda, dan akan melakukannya dengan semangat.
Caranya?
Kita belajar mengendalikan otak kita, yuk! Untuk bisa mengubah pola pikir kita, sebelumnya yang harus kita lakukan adalah mengatur perasaan kita, dan berusaha mengingat apa yang kita rasakan saat sedang mengalami state atau kondisi tertentu. Semua ini dilakukan agar kita bisa mendapatkan sugesti yang kita butuhkan tadi. Caranya:
1. Tentukan dulu perasaan apa yang ingin kita rasakan lagi. Biasanya sih kita akan memilih perasaan-perasaan yang menyenangkan seperti bahagia, tenang, atau damai. Misalnya, saat lagi kesal sama pacar, kita ingin mengubah pikiran kita agar kembali sayang sama dia.
2. Setelah kita tahu perasaan itu, coba ingat-ingat lagi saat kita mengalami perasaan itu, lengkap dengan detailnya. Persis seperti yang dilakukan oleh Harry Potter saat dia memerlukan pikiran bahagia untuk mengeluarkan mantra Patronus-nya.
3. Lalu visualisasikan kondisi kita saat merasakan perasaan itu. Mulai dengan membayangkan warna-warna, benda-benda hingga suara-suara yang kita dengar dalam moment tadi. Usahakan agar kita bisa mendapatkan bentuk audio-visual serinci mungkin dari moment tersebut.
March 05, 2009
December 12, 2008
Metoda Sokrates

Sokrates hidup di Yunani Kuno sekitar 2500 tahun lalu. Kecendekiaan Sokrates menyebabkan namanya tetap dikenal umum sampai sekarang ini. Ada sejumlah sumbangan yang diberikan oleh Sokrates kepada kita. Salah satu sumbangan Sokrates yang berdampak besar di bidang pengetahuan adalah metoda yang kini dikenal sebagai metoda Sokrates.
Pada dasarnya metoda Sokrates eukup sederhana. Pada zamannya, Sokrates mencari kebenaran atau kepalsuan melalui tanya jawab berantai. Tanya jawab seperti inilah yang dikenal sebagai metoda Sokrates. Sokrates berpendapat bahwa orang bijak adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Mungkin karena tidak mengetahui itulah maka Sokrates berdialog.
Ketika fiIsafat muncul pada zaman Yunani Kuno maka salah satu ciri khas filsafat adalah dialog yang bersumber dari metoda Sokrates itu. Dan ketika filsafat diadopsi oleh berbagai bidang pengetahuan maka sistem dialog ikut digunakan oleh berbagai bidang pengetahuan itu.
Metoda Sokrates atau dialog paling sedikit memerlukan dua hal. Pertama. dialog memerlukan bahan untuk didialogkan. Dalam hal ini para filsuf bebas melakukan observasi, berpikir, dan berspekulasi. Spekulasi inilah menjadi bahan untuk dialog. Kedua. dialog memerlukan aturan. Aturan dialog yang mereka gunakan adalah logika.
Universitas zaman pertengahan di Eropa mewajibkan dosen menyelenggarakan dialog seminggu sekali. Mereka menamakan dialog demikian sebagai disputatio. Sebagai bahan disputatio biasanya ada orang yang menempatkan pikirannya. Dalam bahasa Latin kata tesis berarti ‘menempatkan’ atau ‘mendudukkan’, sehingga kemudian penempatan pikiran untuk disputatio dikenal sebagai tesis.
Setelah disputatio. dosen melakukan kompilasi dari pembicaraan pada hasil disputatio. Kompilasi ini dikenal sebagai dubium (jamak: dubia). Dubia dapat digunakan sebagai bahan referensi di dalam universitas. Metoda Sokrates yang menjadi dialog dan selanjutnya menjadi disputatio masih terus digunakan sampai sekarang di dalam universitas dalam bentuk ujian tesis.
Kekuatan dialog ini menyebabkan filsafat diadopsi oleh berbagai bidang pengetahuan. Filsafat dengan dialognya digunakan di bidang medik, di bidang pengetahuan alam, dan kemudian di bidang pengetahuan soslal. Bahkan dialog demikian dilengkapi dengan kegiatan empirik untuk penjustifikasian dalam dialog. Berkat dialog seperti ini terjadilah kemajuan di berbagai pengetahuan ilmiah. Berkat dialog terjadilah perbedaan di antara sofis dan filsuf serta di antara dukun dan dokter.
Metoda Sokrates berupa dialog kini menjadi inti dari kecendekiaan kita sekarang. Dialog muncul di jurnal i1miah, di panel diskusi, di seminar ilmiah. dan bahkan diharapkan terjadi di dalam kelas. Agar dialog dapat terjadi, sesuai dengan hakikatnya, diperlukan bahan dan aturan. Aturan berupa logika sudah ada di universitas. Karena itu. yang perlu kita siapkan adalah bahan untuk dialog. Bahan dialog ini diharapkan datang dari para dosen di universitas.
Kalau setiap dosen dapat menyiapkan bahan dialog sepuluh tahun sekali. maka universitas dengan empat ratus dosen dapat menyajikan 400 bahan dalam waktu sepuluh tahun. Ini berarti ada 40 bahan dalam setiap tahun atau 20 bahan dalam setiap semester. Sepuluh tahun sekali menyiapkan bClhan dialog rasanya tidak terlalu memberatkan beban dosen.
Metoda Sokrates berupa dialog atau disputatio atau diskusi tidak sekadar berguna di bidang pengetahuan ilmiah. Metoda Sokrates dapat juga diterapkan di berbagai bidang di dalam hidup kita termasuk di dalam universitas. Metoda Sokrates dapat diterapkan di dalam perencanaan dan di dalam penyelesaian masalah. Syarat minimalnya cukup dua: ada bahan dan ada aturan.